by

Kemenperin gali inovasi perajin lewat Kompetisi Tudung Saji Nusantara

Berita dikutip dari :

Diharapkan para perajin terus mengeluarkan ide, inovasi, dan karya kreatif yang dapat memberikan pengaruh positif pada perkembangan industri kerajinan lokal

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Perindustrian menggali inovasi dan kreativitas perajin melalui Kompetisi Tudung Saji Nusantara 2020, yang diselenggarakan bersama Kementerian Perdagangan dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

Ajang tersebut merupakan upaya melestarikan budaya bangsa dengan memperkenalkannya melalui kerajinan yang adiluhung serta menumbuhkan minat kaum muda dalam rangka mendorong regenerasi perajin secara inovatif, kreatif, dan ramah lingkungan.

“Selain itu, kompetisi ini mendukung Gerakan Nasional #BanggaBuatanIndonesia dalam rangka membangun minat masyarakat untuk membeli produk lokal, khususnya produk-produk kerajinan,” ungkap Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih pada konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Kemenperin targetkan IKM sumbang 21 persen pertumbuhan industri RI

Kompetisi ini dilatarbelakangi kondisi pada era adaptasi kebiasaan baru, dengan banyak masyarakat lebih banyak melakukan kegiatannya di rumah.

Kebiasaan baru ini tampaknya mendorong masyarakat kota untuk membuat rumahnya lebih nyaman dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan dekorasi interior, mulai dari melakukan peremajaan infrastruktur hingga perlengkapan rumah tangga seperti tudung saji yang dibuat selaras.

Tudung saji merupakan salah satu produk unggulan dari industri kerajinan. Nilai ekspor barang industri kerajinan pada periode Januari-September 2020 sebesar 435 juta dolar AS atau setara Rp6,17 triliun.

Nilai tersebut mengalami penurunan sebesar 9,9 persen jika dibandingkan dengan nilai ekspor periode Januari-September 2019 yang tercatat sebesar 483 juta dolar AS atau setara Rp6,71 triliun.

Untuk itu, diperlukan langkah untuk menggiatkan kembali perajin salah satunya melalui kompetisi.

“Para perajin juga perlu beradaptasi memaksimalkan potensi untuk improvisasi agar dapat terus berkreasi. Para perajin dituntut untuk terus berinovasi mengeluarkan ide dan karya kreatif yang dapat memberikan pengaruh positif pada perkembangan industri kerajinan,” tambah Gati.

Wakil Ketua Harian I Dewan Kerajinan Nasional Loemongga Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan kegiatan kompetisi tudung saji sejalan dengan tujuan dibentuknya Dekranas.

Tujuan yang dimaksud yaitu mengembangkan kerajinan nasional dengan menanamkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kerajinan bagi kehidupan sehari hari, serta melestarikan kebudayaan asli tanpa mengabaikan penggunaan penemuan dan teknologi baru, dalam rangka mengembangkan identitas budaya bangsa.

“Selain itu, Dekranas juga memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan pengusaha kecil, perajin, dan seniman dengan mendorong semangat kewirausahaan mereka salah satunya melalui kegiatan kompetisi tudung saji ini,” ujar Loemongga.

Tudung saji juga merupakan warisan budaya turun temurun dari nenek moyang yang memiliki nilai historis dan filosofis tinggi. Tudung saji, terdiri dari dua kata, yaitu tudung dan saji.

Tudung berarti penutup dan saji berarti sajian atau hidangan. Tudung saji merupakan penutup makanan yang dianyam dari daun pandan hutan (berduri) yang sering dipakai oleh sebagai penutup dulang tempat makanan yang dihidangkan kepada para tamu atau majelis untuk melindungi makanan dari binatang seperti lalat.

“Filosofi tudung saji adalah memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga tudung saji merepresentasikan perlindungan terhadap nilai-nilai budaya kita yang dituangkan dalam bentuk produk-produk kerajinan. Untuk itulah kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk apresiasi kepada para perajin Indonesia sebagai penjaga warisan budaya nenek moyang kita,” tambah Loemongga.

Proses seleksi kompetisi ini dilakukan untuk memilih 30 karya dari total 168 pendaftar. Selanjutnya, peserta diseleksi kembali menjadi 10 besar, dan 3 besar di tahap penjurian akhir.

“Tiga peserta terbaik kompetisi ini yaitu Muliani (Lombok Tengah, NTB), Andi Aisha JBP (Makassar, Sulsel), Ketut Sukra Wenten (Buleleng, Bali),” ujar Ketua Bidang Daya Saing Dekranas Chandrasari Agus Suparmanto dalam acara awarding ceremony yang dilaksanakan secara virtual.

Para juara mendapatkan hadiah uang pembinaan dari Kementerian Perindustrian sebesar Rp30 juta (juara 1), Rp20 juta (juara 2), dan Rp15 juta (juara 3), serta hadiah berupa satu komputer personal untuk masing-masing pemenang dari Kementerian Perdagangan.

Sedangkan untuk 10 finalis mendapatkan masing-masing satu paket studio mini dari Kementerian Perdagangan, serta pulsa ponsel senilai Rp100.000 selama enam bulan dari Ketua Bidang Daya Saing Dekranas.

“Melalui kompetisi ini, diharapkan para perajin di masa yang akan datang akan terus mengeluarkan ide, inovasi, dan karya kreatif yang dapat memberikan pengaruh positif pada perkembangan industri kerajinan lokal,”  tutup Gati.

Baca juga: Apresiasi IKM, Wapres anugerahkan penghargaan Upakarti dan IGDS

Baca juga: Kemenperin keluarkan jurus jitu dongkrak kinerja IKM furnitur

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020



Source link

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed